Jumat, 12 Agustus 2011

ATONIA UTERI


DASAR TEORI
ATONIA UTERI

Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi peripartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme.
Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak berkontraksi.
A.    Definisi
Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir). (JNPKR, Asuhan Persalinan Normal, Depkes Jakarta ; 2002)
Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus untuk berkontraksi dan memendek. Hal ini merupakan penyebab perdarahan post partum yang paling penting dan biasa terjadi segera setelah bayi lahir hingga 4 jam setelah persalinan. Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah pada terjadinya syok hipovolemik3.
B.     Etiologi
1.      Overdistention uterus seperti: gemeli, makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.
2.      Umur yang terlalu muda atau terlalu tua.
3.      Multipara dengan jarak keahiran pendek.
4.      Partus lama / partus terlantar.
5.      Malnutrisi.
6.      Dapat juga karena salah penanganan dalam usaha melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya belum terlepas dari uterus.
Overdistensi uterus, baik absolut maupun relatif, merupakan faktor resiko mayor terjadinya atonia uteri. Overdistensi uterus dapat disebabkan oleh kehamilan ganda, janin makrosomia, polihidramnion atau abnormalitas janin (misal hidrosefalus berat), kelainan struktur uterus atau kegagalan untuk melahirkan plasenta atau distensi akibat akumulasi darah di uterus baik sebelum maupun sesudah plasenta lahir3.
Lemahnya kontraksi miometrium merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan lama atau persalinan dengan tenaga besar, terutama bila mendapatkan stimulasi. Hal ini dapat pula terjadi sebagai akibat dari inhibisi kontraksi yang disebabkan oleh obat-obatan, seperti agen anestesi terhalogenisasi, nitrat, obat-obat antiinflamasi nonsteroid, magnesium sulfat, beta-simpatomimetik dan nifedipin. Penyebab lain yaitu plasenta letak rendah, toksin bakteri (korioamnionitis, endomiometritis, septikemia), hipoksia akibat hipoperfusi atau uterus couvelaire pada abruptio plasenta dan hipotermia akibat resusitasi masif. Data terbaru menyebutkan bahwa grandemultiparitas bukan merupakan faktor resiko independen untuk terjadinya perdarahan post partum.

C.     MANIFESTASI KLINIS
·         Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
·         Perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer).

D.    PENCEGAHAN ATONIA UTERI
Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.
Analog sintetik oksitosin, yaitu karbetosin, saat ini sedang diteliti sebagai uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pospartum dini. Karbetosin merupakan obat long-acting dan onset kerjanya cepat, mempunyai waktu paruh 40 menit dibandingkan oksitosin 4-10 menit. Penelitian di Canada membandingkan antara pemberian karbetosin bolus IV dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi sesar. Karbetosin ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.

V. MANAJEMEN ATONIA UTERI

1. Resusitasi

Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan awal yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda-tanda vital, monitoring jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.

2. Masase dan kompresi bimanual

Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang akan menghentikan perdarahan.



Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (max 15 detik)
·         Jika uterus berkontraksi
Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera
·         Jika uterus tidak berkontraksi maka :
o   Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & lobang serviks.
o   Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong.
o   Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
·         Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan ketat.
·         Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan; Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBI.
o   Jika uterus berkontraksi, pantau ibu dengan seksama selama kala empat.
o   ika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera

3. Uterotonika

Oksitosin merupakan hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi menyababkan tetani. Oksitosin dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus dengan ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM). Efek samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus, efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.
Metilergonovin maleat merupakan golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg. obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.
Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa. Dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g). Prostaglandin ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan, berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Uterotonika ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal, dan disfungsi hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan atonia uteri dengan angka kesuksesan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan penggunaan uterotonika ini untuk mengatasi perdarahan masif yang terjadi.

4.  Pemasangan Kondom Kateter

      Pada tahun 2003 Sayeba Akhter dkk mengajukan alternatif baru dengan pemasangan kondom yang diikatkan pada kateter. Dari penelitiannya disebutkan angka keberhasilannya 100% ( 23 berhasil dari 23 PPH ), kondom dilepas 24 – 48 jam kemudian dan tidak didapatkan komplikasi yang berat. Indikasi pemasangan kondom sebagai tampon tersebut adalah untuk PPH dengan penyebab Atonia Uteri. Cara ini kemudian disebut dengan Metode Sayeba. Metode ini digunakan sebagai alternatif penanganan HPP terutama sambil menunggu perbaikan keadaan umum, atau rujukan.

Cara pemasangan tampon kondom menurut Metode Sayeba adalah secara aseptik kondom yang telah diikatkan pada kateter dimasukkan kedalam cavum uteri. Kondom diisi dengan cairan garam fisiologis sebanyak 250-500 cc sesuai kebutuhan. Dilakukan observasi perdarahan dan pengisian kondom dihentikan ketika perdarahan sudah berkurang. Untuk menjaga kondom agar tetap di cavum uteri, dipasang tampon kasa gulung di vagina. Bila perdarahan berlanjut tampon kassa akan basah dan darah keluar dari introitus vagina. Kontraktilitas uterus dijaga dengan pemberian drip oksitosin paling tidak sampai dengan 6 jam kemudian. Diberikan antibiotika tripel, Amoksisilin, Metronidazol dan Gentamisin. Kondom kateter dilepas 24 – 48 jam kemudian, pada kasus dengan perdarahan berat kondom dapat dipertahankan lebih lama.

5. Operatif

Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka keberhasilan 80-90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika dilakukan SC, ligasi dilakukan 2-3 cm dibawah irisan segmen bawah rahim. Untuk melakukan ini diperlukan jarum atraumatik yang besar dan benang absorbable yang sesuai. Arteri dan vena uterina diligasi dengan melewatkan jarum 2-3 cm medial vasa uterina, masuk ke miometrium keluar di bagian avaskular ligamentum latum lateral vasa uterina. Saat melakukan ligasi hindari rusaknya vasa uterina dan ligasi harus mengenai cabang asenden arteri miometrium, untuk itu penting untuk menyertakan 2-3 cm miometrium. Jahitan kedua dapat dilakukan jika langkah diatas tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen bawah rahim. Dengan menyisihkan vesika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada vasa uterina bagian bawah, 3-4 cm dibawah ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus mengenai sebagian besar cabang arteri uterina pada segmen bawah rahim dan cabang arteri uterina yang menuju ke servik, jika perdarahan masih terus berlangsung perlu dilakukan bilateral atau unilateral ligasi vasa ovarian.
• Ligasi arteri Iliaka Interna
Identiffikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral paralel dengan garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan dibelakang arteri, dan dengan menggunakan benang non absobable dilakukan dua ligasi bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma pada vena iliaka interna. Identifikasi denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah ligasi.
Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam melakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien.
• Teknik B-Lynch
Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Christopher B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan pospartum akibat atonia uteri.
• Histerektomi
Histerektomi peripartum merupakan tindakan yang sering dilakukan jika terjadi perdarahan pospartum masif yang membutuhkan tindakan operatif. Insidensi mencapai 7-13 per 10.000 kelahiran, dan lebih banyak terjadi pada persalinan abdominal dibandingkan vaginal.

E.     KOMPRESI BIMANUAL UTERUS ATONI
Peralatan : sarung tangan steril; dalam keadaan sangat gawat; lakukan dengan tangan telanjang yang telah dicuci
Teknik :
Basuh genetalia eksterna dengan larutan disinfektan; dalam kedaruratan tidak diperlukan
  1. Eksplorasi dengan tangan kiri
Sisipkan tinju kedalam forniks anterior vagina
  1. Tangan kanan (luar) menekan dinding abdomen diatas fundus uteri dan menangkap uterus dari belakang atas
  2. Tangan dalam menekan uterus keatas terhadap tangan luar
Ia tidak hanya menekan uterus, tetapi juga meregang pembuluh darah aferen sehingga menyempitkan lumennya.
Kompresi uterus bimanual dapat ditangani tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit.
Biasanya ia sangat baik mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan perdarahan secara sempurna.
Bila uterus refrakter oksitosin, dan perdarahan tidak berhenti setelah kompresi bimanual, maka histerektomi tetap merupakan tindakan terakhir.

F.      Penatalaksanaan
·         Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri.
·         Masase uterus, berikan oksitosin dan ergometrin intravena, bila ada perbaikan dan perdarahan berhenti, oksitosin dilanjutkan perinfus.
·         Bila tidak ada perbaikan dilakukan kompresi bimanual, dan kemudian dipasang tampon uterovaginal padat. Kalau cara ini berhasil, dipertahankan selama 24 jam.
·         Kompresi bimanual eksternal
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi. Bila belum berhasil dilakukan kompresi bimanual internal.
·         Kompresi bimanual internal
Uterus ditekan di antara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah di dalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme kontraksi). Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi , coba kompresi aorta abdominalis
·         Kompresi aorta abdominalis
Raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut,genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri femoralis. Lihat hasil kompresi dengan memperhatikan perdarahan yang terjadi
·         Dalam keadaan uterus tidak respon terhadap oksitosin / ergometrin, bisa dicoba prostaglandin F2a (250 mg) secara intramuskuler atau langsung pada miometrium (transabdominal). Bila perlu pemberiannya dapat diulang dalam 5 menit dan tiap 2 atau 3 jam sesudahnya.
·         Laparotomi dilakukan bila uterus tetap lembek dan perdarahan yang terjadi tetap > 200 mL/jam. Tujuan laparotomi adalah meligasi arteri uterina atau hipogastrik (khusus untuk penderita yang belum punya anak atau muda sekali).
·         Bila tak berhasil, histerektomi adalah langkah terakhir.

Bagan Penilaian Klinik Atonia Uteri
                        image

DAFTAR PUSTAKA
-          Pelatihan Asuhan Persalinan Normal Buku Acuan.Edisi 3.2007.Jakarta:Jaringan Nasional Pelatihan Klinik.
-          Buku Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neontal.2002.Jakarta



MANAJEMEN KEBIDANAN PADA
IBU NIFAS DENGAN ATONIA UTERI



LANGKAH I
PENGKAJIAN        
Tanggal : 16-9-2010                                                                                      Pukul : 09.10 wita
A.    Data Subjektif
1.      Identitas / Biodata
Nama klien            : Ny.A                                                       Nama suami       : Tn.B
Umur                     : 35 tahun                                                  Umur                  : 40 tahun
Suku                      : Jawa                                                        Suku                   : Jawa
Agama                   : Islam                                                       Agama                : Islam
Pendidikan            : SMA                                                       Pendidikan         : SMA
Pekerjaan               : IRT                                                          Pekerjaan            : Swasta
Alamat                  : Gn.Sari No.25                                         Alamat               : Gn.Sari No.25


B.     ANAMNESA
      Tanggal : 16-9-2010                                                                Pukul : 09.11 WITA
1.      Alasan kunjungan       :
Ibu keluar lendir, darah dan air dari pukul 03.45 wita
2.      Riwayat Obstetri         :
Tidak mempunyai penyakit yang membahayakan persalinan dan kehamilan.
3.      Riwayat menstruasi
·         Lamanya                  : 5 hari
·         Banyaknya               : 2 kali ganti pembalut / hari
·         Siklus                       : 28 hari
·         Menarche                 : 13 tahun
·         Teratur / tidak          : teratur
·         Dismenorrhea           : tidak ada
·         Warna                       : Merah tua
·         Bau                           : Khas menstruasi
·         Keluhan                    : tidak ada
4.      Riwayat Kesehatan              :
Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan alcohol, ibu juga tidak pernah merokok, dan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular maupun kronis.

5.      Riwayat keluarga berencana
a.       Pernah ikut KB                       : Ya
b.      Jenis kontrasepsi yang
pernah digunakan                    : suntik hormone setiap 3 bulan
c.       Lama pemakaian                     : ± 2 tahun yang lalu
d.      Keluhan selama pemakaian     : tidak ada
e.       Tempat pelayanan KB            : PKM
f.       Alasan ganti metode               : tidak ada
g.      Ikut KB atas motivasi             : sendiri


6.      Riwayat Sosial            :
Hubungan ibu dengan masyarakat disekitarnya baik, dan ibu mengikuti kegiatan sosial dan arisan dilingkungannya.

7.      Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah: 100/70 mmHg
Nadi                : 76x/menit
Respirasi          : 24x/menit
Suhu                : 37,2˚C

8.      Pemeriksaan Penunjang
      Laboratorium : Hb : 8,5 gr%

RESUME :
Pasien Ny.A umur 35 tahun masuk  Rumah Sakit tanggal 16-9-2010 pukul 05.00 wita dengan keluar lendir darah dan air sejak pukul 03.45 wita. HPHT : 6-12-2009 hamil  39-40 minggu, G5P4A0, inpartu kala I fase aktif, Vital sign : TD : 100/60mmhg, Nadi:76x/,enit,Temp:37,2˚c,VT: pembukan 4-5cm, selaput ketuban utuh, presentasi kepala.


Palpasi :
Leopold I  : 3jari dibawah px
Leopold II : pu-ki
Leopold III: let-kep
Leopold IV: konvergen
DJJ            : (+) 142x/menit
·      Pada pukul 10.00 wita dilakukan VT pembukaan lengkap.
·      Pada pukul 10.08 wita ibu mengedan, perineum menonjol, vulva membuka, tekanan pada anus, his ibu menjadi lebih kuat, 4x dalam 10 menit lamanya 40 detik. TD :100/70mmHg,Ndi:76x/menit, Suhu: 37˚C, Respirasi :24x/menit.
·      Pada pukul 10.15 menit bayi lahir spontan Jenis kelamin : laki-laki,BB: 3500gr, Panjang :50cm.
·      Pada pukul 10.30 plasenta lahir normal dan spontan
·      Setelah plasenta lahir, uterus tidask berkontraksi, teraba uterus lunak dan lembek, ibu tampak lelah, perdarahan 300cc, kesadaran compos mentis
·      Dilakukan cek Hb Sahli Hb 8,5gr%

LANGKAH II
INTERPRETASI DATA DASAR
Diagnosa  : Ibu P5 A0 20 menit PP dengan atonia uteri
Data Dasar                 :
·         Plasenta telah lahir 5 menit yang lalu.
·         Uterus tidak berkontraksi, teraba uterus lunak dan lembek.
·         KU: Lemah     Kes : CM
·         TTV : TD:90/70mmHg, Nadi:72x/menit, RR:24x/menit, Temp: 37˚C.
·         Peradarahan  ± 550cc
·         Hb : 8,5 gr%
·         Anak lahir hidup, BB 3500gram, PB 50cm.
·         A/S : 8/9, anus (+)





Masalah :
a.       Lelah
Data dasar :
-          Ibu mengatakan seluruh badan terasa lemas
-          Ibu merasa mengantuk.

Kebutuhan :
- istirahat dan tidur
Data dasar :
-          Ibu mengatakan seluruh badan terasa lemas
-          Ibu merasa mengantuk.

LANGKAH III
DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
Masalah potensial :
- Syok Hipovolemik
Antisipasi masalah potensial ; pantau TTV, gejala pusing berat, tanda-tanda sesak nafas, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian transfuse darah/plasma expander untuk terapi lanjutan.

LANGKAH IV
KOLABORASI/TINDAKAN SEGERA
Kolaborasi untuk pemasangan infuse dan pemeriksaan alabolatorium.

LANGKAH V
INTERVENSI
1.         Beritahukan keadaan ibu kepada ibu dan keluarganya, agar ibu lebih kooperatif.
2.         Lakukan massage uterus sampai timbul kontraksi dan keluarkan bila ada bekuan darah.
3.         Lakukan pemasangan infuse RL.
4.         Kosongkan kandung kemih dan pertahankan agar tetap kosong.
5.         Berikan oksitosin 10 UI, dan 0,2 UI Ergometrin secara IV/IM.
6.         Observasi KU dan tanda-tanda adanya Syok.
7.         Berikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD.
8.         Periksa kelengkapan plasenta, dan pastikan tidak ada kotiledonnya yang tertinggal.
9.         Raba dan rasakan uterus setiap 2 menit.
10.     Ambil darah untuk mengukur Hb.
11.     Bila ibu mengalami syok, lakukan penangannan pasien syok.
12.     Pertahankan kontraksi uterus dengan baik, masukan 20 UI Oksitosin kedalam 1 L cairan RL (drip), dan berikan 40 tts/menit. Bila perlu lakukan pemasangan infus yang kedua.
13.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi tetap lemah, lakuka kompresi bimanual.
14.     Dalam keadaan darurat, bila kompresi bimanual gagal, menghentikan perdarahan dan perdarahan tetap banyak kompresi bimanual aorta dapat dilakukan sambil mencari sebab perdarahan.
15.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi uterus baik, periksa vagina dan serviks terhadap adanya robekan.
16.     Kolaborasi dengan dokter bila pasien mengalami syok berat untuk pemberian plasma/transfuse darah, untuk mendapat terapi lanjutan.
17.     Lakukan pemantauan KU pasien dengan seksama selama 24-48jam.


LANGKAH VI
IMPLEMENTASI
1.      Memberitahukan keadaan ibu kepada ibu dan keluarganya, agar ibu lebih kooperatif.
2.         Melakukan massage uterus sampai timbul kontraksi dan keluarkan bila ada bekuan darah.
3.         Melakukan pemasangan infuse RL 30 tetes/menit
4.         Mengosongkan kandung kemih dan pertahankan agar tetap kosong.
5.         Memberikan oksitosin 10 UI, dan 0,2 UI Ergometrin secara IV/IM.
6.         Mengobservasi KU dan tanda-tanda adanya Syok.
7.         Memberikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD.
8.         Memeriksa kelengkapan plasenta, dan pastikan tidak ada kotiledonnya yang tertinggal.
9.         Meraba dan rasakan uterus setiap 2 menit.
10.     Mengambil darah untuk mengukur Hb.
11.     Melakukan penanganan presyok, memasang oksigen 2 L dan dengan kepala ekstensi.
12.     Mempertahankan kontraksi uterus dengan baik, masukan 20 UI Oksitosin kedalam 1 L cairan RL (drip), dan berikan 40 tts/menit. Bila perlu lakukan pemasangan infus yang kedua.
13.     Melakukan kompresi bimanual internal, bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi tetap lemah. Jika uterus mulai berkontraksi, lalu tetap pertahankanposisi tersebut hingga uterus berkontraksi dengan baik dan secara perlahan melepaskan tangan kemudian melanjutkan memantau KU Ibu secara ketat.
14.     Dalam keadaan darurat, bila kompresi bimanual gagal, menghentikan perdarahan dan perdarahan tetap banyak kompresi bimanual aorta dapat dilakukan sambil mencari sebab perdarahan.
15.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi uterus baik, periksa vagina dan serviks terhadap adanya robekan.
16.     Kolaborasi dengan dokter bila pasien mengalami syok berat untuk pemberian plasma/transfuse darah, untuk mendapat terapi lanjutan.
17.     Makukan pemantauan KU pasien dengan seksama selama 24-48jam. Selanjutnya yaitu memeriksa apakah uterus tetap keras dan berkontraksi dengan baik. Memeriksa jumlah kehilangan darah yaitu dengan menempatkan kain bersih di bawah bokong Ibu kemudian luruskan tungkainya dan meminta Ibu menyilangkan kedua kaki selama 20-30 menit, sehingga darah akan terkumpul di daerah pubis kemudian memeriksa TTV, warna kulit, kesadaran, pemasukan cairan dan jumlah urine.

LANGKAH VII
EVALUASI
Tanggal 16-9-2010                                                                                          Pukul : 10.00 wita
- Setelah dilakukan tindakan-tindakan di atas, uterus Ibu berkontraksi dengan baik, perdarahan kurang. TD: 100/70mmHg, N: 80x/menit, R:20x/menit, T: 37˚C, Kes: CM, presyok teratasi, infuse terpasang, RL 30 tetes/menit, Hb: 9,5 gr%, TFU: 1jari bawah pusat.












PENDOKUMENTASI KEBIDANAN

S : - Ibu mengatakan bahwa seluruh badannya terasa lemas dan pusing
-          Ibu mengatakan tidak merasa mules
-          Ibu mengatakan ini anak ke-5
-          HPHT : 06-12-2009
O : - Plasenta telah lahir 5 menit yang lalu.
-          Uterus tidak berkontraksi, teraba uterus lunak dan lembek.
-          KU: Lemah
-          TTV : TD:90/70mmHg, Nadi:72x/menit, RR:24x/menit, Temp: 37˚C.
-          Peradarahan  ± 550cc
·         Hb : 8,5 gr%
·         Anak lahir hidup, BB 3500gram, PB 50cm.
·         A/S : 8/9, anus (+)

A : P5 A0 20 menit PP dengan atonia uteri
P :
1.      Beritahukan keadaan ibu kepada ibu dan keluarganya, agar ibu lebih kooperatif.
2.      Lakukan massage uterus sampai timbul kontraksi dan keluarkan bila ada bekuan darah.
3.         Lakukan pemasangan infuse RL.
4.         Kosongkan kandung kemih dan pertahankan agar tetap kosong.
5.         Berikan oksitosin 10 UI, dan 0,2 UI Ergometrin secara IV/IM.
6.         Observasi KU dan tanda-tanda adanya Syok.
7.         Berikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD.
8.         Periksa kelengkapan plasenta, dan pastikan tidak ada kotiledonnya yang tertinggal.
9.         Raba dan rasakan uterus setiap 2 menit.
10.     Ambil darah untuk mengukur Hb.
11.     Bila ibu mengalami syok, lakukan penangannan pasien syok.
12.     Pertahankan kontraksi uterus dengan baik, masukan 20 UI Oksitosin kedalam 1 L cairan RL (drip), dan berikan 40 tts/menit. Bila perlu lakukan pemasangan infus yang kedua.
13.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi tetap lemah, lakuka kompresi bimanual.
14.     Dalam keadaan darurat, bila kompresi bimanual gagal, menghentikan perdarahan dan perdarahan tetap banyak kompresi bimanual aorta dapat dilakukan sambil mencari sebab perdarahan.
15.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi uterus baik, periksa vagina dan serviks terhadap adanya robekan.
16.     Kolaborasi dengan dokter bila pasien mengalami syok berat untuk pemberian plasma/transfuse darah, untuk mendapat terapi lanjutan.
17.     Lakukan pemantauan KU pasien dengan seksama selama 24-48jam.




MANAJEMEN KEBIDANAN PADA
IBU NIFAS DENGAN ATONIA UTERI



LANGKAH I
PENGKAJIAN        
Tanggal : 16-9-2010                                                                                      Pukul : 09.10 wita
A.    Data Subjektif
1.      Identitas / Biodata
Nama klien            : Ny.A                                                       Nama suami       : Tn.B
Umur                     : 35 tahun                                                  Umur                  : 40 tahun
Suku                      : Jawa                                                        Suku                   : Jawa
Agama                   : Islam                                                       Agama                : Islam
Pendidikan            : SMA                                                       Pendidikan         : SMA
Pekerjaan               : IRT                                                          Pekerjaan            : Swasta
Alamat                  : Gn.Sari No.25                                         Alamat               : Gn.Sari No.25


B.     ANAMNESA
      Tanggal : 16-9-2010                                                                Pukul : 09.11 WITA
1.      Alasan kunjungan       :
Ibu keluar lendir, darah dan air dari pukul 03.45 wita
2.      Riwayat Obstetri         :
Tidak mempunyai penyakit yang membahayakan persalinan dan kehamilan.
3.      Riwayat menstruasi
·         Lamanya                  : 5 hari
·         Banyaknya               : 2 kali ganti pembalut / hari
·         Siklus                       : 28 hari
·         Menarche                 : 13 tahun
·         Teratur / tidak          : teratur
·         Dismenorrhea           : tidak ada
·         Warna                       : Merah tua
·         Bau                           : Khas menstruasi
·         Keluhan                    : tidak ada
4.      Riwayat Kesehatan              :
Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan alcohol, ibu juga tidak pernah merokok, dan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular maupun kronis.

5.      Riwayat keluarga berencana
a.       Pernah ikut KB                       : Ya
b.      Jenis kontrasepsi yang
pernah digunakan                    : suntik hormone setiap 3 bulan
c.       Lama pemakaian                     : ± 2 tahun yang lalu
d.      Keluhan selama pemakaian     : tidak ada
e.       Tempat pelayanan KB            : PKM
f.       Alasan ganti metode               : tidak ada
g.      Ikut KB atas motivasi             : sendiri


6.      Riwayat Sosial            :
Hubungan ibu dengan masyarakat disekitarnya baik, dan ibu mengikuti kegiatan sosial dan arisan dilingkungannya.

7.      Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah: 100/70 mmHg
Nadi                : 76x/menit
Respirasi          : 24x/menit
Suhu                : 37,2˚C

8.      Pemeriksaan Penunjang
      Laboratorium : Hb : 8,5 gr%

RESUME :
Pasien Ny.A umur 35 tahun masuk  Rumah Sakit tanggal 16-9-2010 pukul 05.00 wita dengan keluar lendir darah dan air sejak pukul 03.45 wita. HPHT : 6-12-2009 hamil  39-40 minggu, G5P4A0, inpartu kala I fase aktif, Vital sign : TD : 100/60mmhg, Nadi:76x/,enit,Temp:37,2˚c,VT: pembukan 4-5cm, selaput ketuban utuh, presentasi kepala.


Palpasi :
Leopold I  : 3jari dibawah px
Leopold II : pu-ki
Leopold III: let-kep
Leopold IV: konvergen
DJJ            : (+) 142x/menit
·      Pada pukul 10.00 wita dilakukan VT pembukaan lengkap.
·      Pada pukul 10.08 wita ibu mengedan, perineum menonjol, vulva membuka, tekanan pada anus, his ibu menjadi lebih kuat, 4x dalam 10 menit lamanya 40 detik. TD :100/70mmHg,Ndi:76x/menit, Suhu: 37˚C, Respirasi :24x/menit.
·      Pada pukul 10.15 menit bayi lahir spontan Jenis kelamin : laki-laki,BB: 3500gr, Panjang :50cm.
·      Pada pukul 10.30 plasenta lahir normal dan spontan
·      Setelah plasenta lahir, uterus tidask berkontraksi, teraba uterus lunak dan lembek, ibu tampak lelah, perdarahan 300cc, kesadaran compos mentis
·      Dilakukan cek Hb Sahli Hb 8,5gr%

LANGKAH II
INTERPRETASI DATA DASAR
Diagnosa  : Ibu P5 A0 20 menit PP dengan atonia uteri
Data Dasar                 :
·         Plasenta telah lahir 5 menit yang lalu.
·         Uterus tidak berkontraksi, teraba uterus lunak dan lembek.
·         KU: Lemah     Kes : CM
·         TTV : TD:90/70mmHg, Nadi:72x/menit, RR:24x/menit, Temp: 37˚C.
·         Peradarahan  ± 550cc
·         Hb : 8,5 gr%
·         Anak lahir hidup, BB 3500gram, PB 50cm.
·         A/S : 8/9, anus (+)





Masalah :
a.       Lelah
Data dasar :
-          Ibu mengatakan seluruh badan terasa lemas
-          Ibu merasa mengantuk.

Kebutuhan :
- istirahat dan tidur
Data dasar :
-          Ibu mengatakan seluruh badan terasa lemas
-          Ibu merasa mengantuk.

LANGKAH III
DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
Masalah potensial :
- Syok Hipovolemik
Antisipasi masalah potensial ; pantau TTV, gejala pusing berat, tanda-tanda sesak nafas, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian transfuse darah/plasma expander untuk terapi lanjutan.

LANGKAH IV
KOLABORASI/TINDAKAN SEGERA
Kolaborasi untuk pemasangan infuse dan pemeriksaan alabolatorium.

LANGKAH V
INTERVENSI
1.         Beritahukan keadaan ibu kepada ibu dan keluarganya, agar ibu lebih kooperatif.
2.         Lakukan massage uterus sampai timbul kontraksi dan keluarkan bila ada bekuan darah.
3.         Lakukan pemasangan infuse RL.
4.         Kosongkan kandung kemih dan pertahankan agar tetap kosong.
5.         Berikan oksitosin 10 UI, dan 0,2 UI Ergometrin secara IV/IM.
6.         Observasi KU dan tanda-tanda adanya Syok.
7.         Berikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD.
8.         Periksa kelengkapan plasenta, dan pastikan tidak ada kotiledonnya yang tertinggal.
9.         Raba dan rasakan uterus setiap 2 menit.
10.     Ambil darah untuk mengukur Hb.
11.     Bila ibu mengalami syok, lakukan penangannan pasien syok.
12.     Pertahankan kontraksi uterus dengan baik, masukan 20 UI Oksitosin kedalam 1 L cairan RL (drip), dan berikan 40 tts/menit. Bila perlu lakukan pemasangan infus yang kedua.
13.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi tetap lemah, lakuka kompresi bimanual.
14.     Dalam keadaan darurat, bila kompresi bimanual gagal, menghentikan perdarahan dan perdarahan tetap banyak kompresi bimanual aorta dapat dilakukan sambil mencari sebab perdarahan.
15.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi uterus baik, periksa vagina dan serviks terhadap adanya robekan.
16.     Kolaborasi dengan dokter bila pasien mengalami syok berat untuk pemberian plasma/transfuse darah, untuk mendapat terapi lanjutan.
17.     Lakukan pemantauan KU pasien dengan seksama selama 24-48jam.


LANGKAH VI
IMPLEMENTASI
1.      Memberitahukan keadaan ibu kepada ibu dan keluarganya, agar ibu lebih kooperatif.
2.         Melakukan massage uterus sampai timbul kontraksi dan keluarkan bila ada bekuan darah.
3.         Melakukan pemasangan infuse RL 30 tetes/menit
4.         Mengosongkan kandung kemih dan pertahankan agar tetap kosong.
5.         Memberikan oksitosin 10 UI, dan 0,2 UI Ergometrin secara IV/IM.
6.         Mengobservasi KU dan tanda-tanda adanya Syok.
7.         Memberikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD.
8.         Memeriksa kelengkapan plasenta, dan pastikan tidak ada kotiledonnya yang tertinggal.
9.         Meraba dan rasakan uterus setiap 2 menit.
10.     Mengambil darah untuk mengukur Hb.
11.     Melakukan penanganan presyok, memasang oksigen 2 L dan dengan kepala ekstensi.
12.     Mempertahankan kontraksi uterus dengan baik, masukan 20 UI Oksitosin kedalam 1 L cairan RL (drip), dan berikan 40 tts/menit. Bila perlu lakukan pemasangan infus yang kedua.
13.     Melakukan kompresi bimanual internal, bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi tetap lemah. Jika uterus mulai berkontraksi, lalu tetap pertahankanposisi tersebut hingga uterus berkontraksi dengan baik dan secara perlahan melepaskan tangan kemudian melanjutkan memantau KU Ibu secara ketat.
14.     Dalam keadaan darurat, bila kompresi bimanual gagal, menghentikan perdarahan dan perdarahan tetap banyak kompresi bimanual aorta dapat dilakukan sambil mencari sebab perdarahan.
15.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi uterus baik, periksa vagina dan serviks terhadap adanya robekan.
16.     Kolaborasi dengan dokter bila pasien mengalami syok berat untuk pemberian plasma/transfuse darah, untuk mendapat terapi lanjutan.
17.     Makukan pemantauan KU pasien dengan seksama selama 24-48jam. Selanjutnya yaitu memeriksa apakah uterus tetap keras dan berkontraksi dengan baik. Memeriksa jumlah kehilangan darah yaitu dengan menempatkan kain bersih di bawah bokong Ibu kemudian luruskan tungkainya dan meminta Ibu menyilangkan kedua kaki selama 20-30 menit, sehingga darah akan terkumpul di daerah pubis kemudian memeriksa TTV, warna kulit, kesadaran, pemasukan cairan dan jumlah urine.

LANGKAH VII
EVALUASI
Tanggal 16-9-2010                                                                                          Pukul : 10.00 wita
- Setelah dilakukan tindakan-tindakan di atas, uterus Ibu berkontraksi dengan baik, perdarahan kurang. TD: 100/70mmHg, N: 80x/menit, R:20x/menit, T: 37˚C, Kes: CM, presyok teratasi, infuse terpasang, RL 30 tetes/menit, Hb: 9,5 gr%, TFU: 1jari bawah pusat.












PENDOKUMENTASI KEBIDANAN

S : - Ibu mengatakan bahwa seluruh badannya terasa lemas dan pusing
-          Ibu mengatakan tidak merasa mules
-          Ibu mengatakan ini anak ke-5
-          HPHT : 06-12-2009
O : - Plasenta telah lahir 5 menit yang lalu.
-          Uterus tidak berkontraksi, teraba uterus lunak dan lembek.
-          KU: Lemah
-          TTV : TD:90/70mmHg, Nadi:72x/menit, RR:24x/menit, Temp: 37˚C.
-          Peradarahan  ± 550cc
·         Hb : 8,5 gr%
·         Anak lahir hidup, BB 3500gram, PB 50cm.
·         A/S : 8/9, anus (+)

A : P5 A0 20 menit PP dengan atonia uteri
P :
1.      Beritahukan keadaan ibu kepada ibu dan keluarganya, agar ibu lebih kooperatif.
2.      Lakukan massage uterus sampai timbul kontraksi dan keluarkan bila ada bekuan darah.
3.         Lakukan pemasangan infuse RL.
4.         Kosongkan kandung kemih dan pertahankan agar tetap kosong.
5.         Berikan oksitosin 10 UI, dan 0,2 UI Ergometrin secara IV/IM.
6.         Observasi KU dan tanda-tanda adanya Syok.
7.         Berikan bayi pada ibu untuk dilakukan IMD.
8.         Periksa kelengkapan plasenta, dan pastikan tidak ada kotiledonnya yang tertinggal.
9.         Raba dan rasakan uterus setiap 2 menit.
10.     Ambil darah untuk mengukur Hb.
11.     Bila ibu mengalami syok, lakukan penangannan pasien syok.
12.     Pertahankan kontraksi uterus dengan baik, masukan 20 UI Oksitosin kedalam 1 L cairan RL (drip), dan berikan 40 tts/menit. Bila perlu lakukan pemasangan infus yang kedua.
13.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi tetap lemah, lakuka kompresi bimanual.
14.     Dalam keadaan darurat, bila kompresi bimanual gagal, menghentikan perdarahan dan perdarahan tetap banyak kompresi bimanual aorta dapat dilakukan sambil mencari sebab perdarahan.
15.     Bila perdarahan terus berlangsung dan kontraksi uterus baik, periksa vagina dan serviks terhadap adanya robekan.
16.     Kolaborasi dengan dokter bila pasien mengalami syok berat untuk pemberian plasma/transfuse darah, untuk mendapat terapi lanjutan.
17.     Lakukan pemantauan KU pasien dengan seksama selama 24-48jam.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar